Selasa, 01 Februari 2011

Betapa tulusnya

Betapa menyenangkan saat kita menolong seseorang tepat disaat ia sedang membutuhkan bantuan. Meski kita tak tau apakah pertolongan tersebut cukup membantu atau tidak.
Betapa menyenangkan saat kita berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan yang berat. Mengorbankan tenaga,waktu,pikiran,dan bahkan terpaksa harus mempermainkan emosi kita. Meski kita tak tau apakah ada penghargaan yang akan kita dapatkan atas keberhasilan kita.
Betapa menyenangkan saat kita mampu menunjukkan pribadi yang apa adanya pada lingkungan sekitar. Meski kita tak tau apakah orang2 di lingkungan tersebut bisa menerima kita apa adanya.
Betapa menyenangkan saat kita mampu menyayangi seseorang dengan tulus. Meski kita tak tau apakah ia akan berbuat yang sama juga.
Ibarat menghirup udara pagi sepuasnya agar mengalir ke dalam rongga dada yang sedang membutuhkannya.
Begitu juga dengan ketulusan yang mengiringi kita, saat kita memutuskan melakukan sesuatu dengan awalan niat baik.

Beberapa Saat Sebelumnya.

Dengan mata terkantuk2 ditengah goncangan kupaksakan utk mencari tau dimana aku berada sekarang. Tak lama, aku pun tau kalau aku sudah berada di tempat yg dituju. Meski masih merayapi pinggiran, namun perasaan gembira bercampur deg2an menghimpit rasa kantuk & lelah yang mendera. Akhirnya ku pijakkan juga kakiku di tempat ini. Tempat yang selama ini tak pernah terbayang bakal aku singgahi. Rasa senang pun meluap2 saat aku bisa menemukan apa yang aku cari selama ini. Dibawah gigitan matahari di atas kepala, akhirnya aku mampu mencapai tempat untuk menyamankan tubuh & jiwa ini. Setelah 730 hitungan aku lakukan dan habiskan waktu. Meski hanya bisa bersandar sesaat, namun tak bisa kuhindari perasaan haru,biru,merah,kuning,dan lainnya. Alas pijakan ini tak akan lupa untuk ku ingat. Selama aku masih mampu menemukannya kembali.

Feels Like Home

Potongan kalimat ini menyentakkan aku pada jalanan-jalanan yang terlalui pada waktu dan tempat yg tak terduga utk dikunjungi. Awalnya sangat asing sehingga hanya terbawa keberanian dan keyakinan utk mencapai titik yg telah ditentukan. Namun sekejap menjadi akrab karena satu elemen yg menyergap tubuh & pikiranku. Ibarat meniti jejak langkah, akhirnya kutemukan juga ujung jalan yg mengarah pada pencapaian.

Dalam 172.800 ketukan konstan, itulah umur yang ku habiskan ditempat yg mungkin menjadi tempat bernaung dikemudian hari. Tak mungkin ragu utk berada disini. Jika ragu, akan membunuh sekilas harapan sebelumnya.
Jauh dari tempat yg kukenal, semakin terasa berat meninggalkan tempat asing ini. Tapi aku tersadar bahwa aku pergi utk kembali. Yakin bahwa ini juga sebaik rumahku. Tempat bernaung dikemudian hari, jika jalan itu terbentang lagi utk kembali.

It feels like home when I found it for a short-single time. It feels like home when finally it reached. It feels like home when I have to go back to where I belong. It feels like home because I promise to back at this spot, someday. It feels like home when there's no doubt to runs what I want.

Keluh sadar

Dengan tenangnya si bapak bergumam "emang terlalu bodoh untuk baru menyadari". Dia tersadar bahwa dia adalah orang yang berada pada segala hal yang tidak tepat untuk dia dapatkan. "aku seperti badut sirkus aja. Membiarkan diriku malu pada tempat yang tidak semestinya". Si bapak ternyata butuh waktu lama untuk menyadari semua kebodohannya. Tertipu mentah-mentah oleh hal-hal asing yang mendadak ia yakini tanpa alasan jelas. Pikirannya terlalu bebal untuk bisa terbuka terhadap logika yang tersembunyi oleh kebodohannya selama ini. Rayuan setan selama ini berhasil mengurung pikiran dan perilakunya dalam ruang pembodohan.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan sang bapak untuk mengumpulkan kepercayaanya pada hal-hal yang selama ini ia yakini memang berguna untuk hidupnya. Sekaligus menghapus perasaan tertipu oleh manisnya heaven sense selama ini, dan meyakini betapa pahitnya hell sense yang selalu tampil sebagai logika.
"Ah, ga semestinya lama-lama begini. Buang saja dan lupakan hal-hal menyesatkan ini. Masih banyak harapan yang harus aku kejar. Harapan-harapan bermakna untuk masa depanku. Toh setan-setan berwajah model ini ga ada artinya dibandingkan dengan perjalanan hidup yang sebenarnya. Jangan buang harapan pada tong sampah. Tapi letakkanlah pada tempatnya".
Seperti ditusuk jarum suntik secara tiba-tiba, sebuah senyuman muncul secara halus dari bibirnya. Si bapak pun kembali berjalan dengan tegap melanjutkan tujuannya.

Penyeimbangan meniti alur

Untuk meniti sebuah alur di depan mata, keseimbangan dua sisi sangat dibutuhkan. Karena keseimbangan memberikan kekuatan pada dua bagian yang mungkin berbeda. Saling mengisi, saling memberi kekuatan, dan saling memahami kekurangan atau pun kelebihan sisi masing-masing merupakan inti dari penguatan diri agar mampu melangkah pasti. Namun beda halnya jika langkah kaki goyah karena kedua sisi keseimbangan tersebut tak sanggup memberikan saling dukung yang sebanding. Berarti ada komunikasi diantara dua sisi tersebut yang tak mendapat tempat yang tepat untuk menyatu.
Memang, tak semua bagian yang sama memiliki keseimbangan yang sama pula. Namun dengan pemahaman dan keyakinan akan kekuatan yang dimiliki, sejumlah langkah akan berjalan pasti diiringi sedikit goncangan-goncangan, baik itu pada alur yang lurus atau pun pada alur yang berliku.
Tidak mudah untuk saling mendukung satu sama lain tanpa saling memahami kemampuan satu sama lain. Dibutuhkan pengertian, kesabaran yang setara agar bisa membaca situasi yang sedang terjadi.
Tanpa keseimbangan yang memadai, arah tujuan langkah tak akan terlihat jelas disebabkan perabaan bidang pijakan yang kurang sempurna.
Tak ada salahnya semua sisi saling menguatkan dan menyeimbangi yang lain agar arah tujuan segera tercapai.

Not A Note

Si hati bergumam, "Kalian sadar g sih klo kalian bodoh smua?? Bodoh karena hanya menggunakan sebelah otak utk berpikir tentang hal2 yang masih kabur, sementara belahan otak lainnya disimpan untuk memikirkan hal2 lain yg mungkin juga ga penting. Terlalu bodoh untuk bisa memahami yang sebenarnya dan tidak tau dimana batas kalian menjaga aturan main."
Kemudian si hati berkata lagi, "Coba deh lebih dipermudah aja daya pikir kalian biar suatu hal yang ga penting bagi kalian akan tetap jadi ga penting buat slamanya. Karena emang bukan urusan publik.
Jika masih ada yang menganggap nilai suatu jalinan penting dalam suatu tatanan. Maka jadikan diri kalian sebagai kontrol semua pihak. Bukannya pengontrol jalan pikiran pendek saat berada pada tempat yang salah."
Setelah beberapa lama, si hati akhirnya sadar. "aku terlalu capek dan mungkin akan terlalu hina untuk mengajukan diriku hanya untuk menagih pembenaran. Aku emang bukan siapa2 dan akan tetap bukan siapa2."
Namun hati kemudian tersenyum dan berkata, "next time, liat aturan main, apa pun posisimu.."

Untuk disimpan

Belajar dengan pola yang sama membuatku bertambah mengerti apa, siapa, dan bagaimana figur-figur itu menjalani kehidupan mereka masing-masing. Menerapkan pola sama pada tiap harinya. Sehingga wujud pun semakin kentara. Dan masih tetap otak dan perilaku serupa yang ditampilkan untuk menjalani 5.184.000 detakan waktu setiap harinya.
Bercermin pada jalan kehidupan-kehidupan itu membuatku menjadi sangat paham bagaimana aku merancang peta perjalananku sendiri.
Tak peduli hitam atau putih, cerah atau mendung, terimakasih banyak atas pelajaran-pelajaran berharga ini.